Tampilkan postingan dengan label Buah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Oktober 2009

Durian Merah Persembahan Raja

Oleh Trubusid
BENTUKNYA MIRIP DURIAN DURIO ZIBETHINUS, AROMANYA JUGA WANGI. KULITNYA HIJAU KEKUNINGAN DENGAN DURI PENDEK DAN TAJAM. BEGITU DIBELAH TERNYATA DAGING BUAHNYA MERAH PEKAT. 'INI BUKAN DURIAN BIASA. KEMUNGKINAN SILANGAN ALAM,' KATA GREGORI HAMBALI, PAKAR BUAH DI BOGOR.

Dua durian berdaging merah kiriman Lutfi Bansir dari Bulungan, Kalimantan Timur, itu berbeda dengan durian merah yang lazim dikenal selama ini. Durian merah yang populer ialah durian anggang Durio graveolens dan lahong Durio dulcis. Yang disebut pertama berdaging merah atau jingga dan berkulit kuning sampai jingga. Ciri khasnya kulit buah terbelah saat matang di pohon. Sedangkan lahong berkulit merah, merah kecokelatan, hingga merah tua. Daging buah krem hingga kuning dan kulit buah tak terbelah meski buah masak telah jatuh dari pohon.

Durian anggang dicicip Evy Syariefa, wartawan Trubus, saat eksplorasi ke Kalimantan Timur pada awal 2002. Lai merah - sebutan durian anggang di Kalimantan Timur - ukurannya sedikit lebih besar dari bola takraw dengan bobot kurang dari 1 kg. Rasanya tak semanis durian D. zibethinus. 'Manisnya mirip jambu air. Daging buah relatif tipis dan aroma lembut mirip aroma bawang putih,' kata Greg.

Sebaliknya lahong beraroma sangat kuat mirip aroma aseton dengan rasa manis. Lahong tak disukai sebagian orang lantaran aroma yang menyengat dapat membuat pusing.

Turunan zibethinus

Durian daging merah asal Bulungan itu istimewa karena memiliki sifat gabungan antara D. graveolens dan D. zibethinus. Saat matang, warna kulit buah hijau kekuningan, sama seperti D. zibethinus. Bobot buah 1 - 2 kg, jelas lebih besar ketimbang D. graveolens. Aroma yang menguar juga aroma D. zibethinus. Begitu dicicip, daging berwarna merah menyala yang mirip D. graveolens itu pun menyimpan rasa dan tekstur mirip D. zibethinus: manis legit dan lembut.

Greg menduga durian merah itu silangan alam D. zibethinus dan D. graveolens. 'Perkiraan saya ini turunan ke-2 (F2, red) lantaran sifat kulit buah dan biji didominasi D. zibethinus. Jika turunan pertama biasanya sifat D. graveolens lebih dominan,' katanya. Greg mengaku pernah mencicip durian serupa bernama durian tenom beauty di Kinabalu, Sabah, Malaysia.

Untuk menguji pendapat Greg, kepada 2 pakar buah - Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS dari Taman Wisata Mekarsari dan Sobir PhD dari Puat Kajian Buah-buahan Tropika (PKBT), IPB - Trubus menyodorkan durian dari Lutfi. Keduanya sepakat, karakter buah durian dari Bulungan itu gabungan durian dengan durian anggang. 'Agar lebih yakin mesti diamati batang, daun, dan bunga secara keseluruhan,' kata Sobir.

Menurut Lutfi ciri fisik pohon durian merah yang berlokasi di Kabupaten Bulungan Raya itu mirip D. zibethinus daripada D. graveolens. Tinggi pohon 20 m dengan diameter batang 1,2 m. Pada awal Agustus 2009, terlihat 18 buah bergelantungan. Saat buah matang, tak ada satu pun yang kulitnya membuka meski telah jatuh. 'Benar-benar mirip durian. Tekstur kulit batangnya kasar dengan warna cokelat keputihan persis D. zibethinus,' kata Lutfi.

Pohon itu ditemukan Lutfi setelah menempuh 6 jam perjalanan darat dari Kota Bulungan dan 2 jam perjalanan menyusuri sungai dengan ketinting - perahu kecil. Di sana hanya ada satu pohon durian merah yang bersanding dengan duku dan asam putar. Berjarak 30 meter dari situ, ada juga pohon D. zibethinus.

Dibawa hewan

Ukuran dan bentuk daun durian merah mirip daun D. zibethinus dengan panjang 19,5 cm dan lebar 5,8 cm. Berbeda dengan daun D. graveolens yang lebih membulat dengan panjang 10 - 26 cm dan lebar 4 - 10 cm. 'Warna bunganya putih mirip bunga durian lokal kultivar berayut,' kata peneliti dari Durian Research Centre, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang, itu.

Penelusuran Lutfi, sekitar 80 km dari lokasi durian merah itu tumbuh durian anggang. Reza menduga buah hasil penyerbukan dibawa manusia atau hewan ke lokasi durian merah itu. Bijinya lalu tumbuh menjadi individu baru.

Menurut Drs Tahan Uji, peneliti durian dari Herbarium Bogor, silangan alam itu bukan spesies baru. 'Klaim spesies baru hanya bisa diberikan pada individu yang memiliki karakter baru yang tidak dimiliki individu lain. Individu dengan sifat intermediet (sifat antara atau perpaduan, red) tidak bisa diklaim sebagai spesies baru,' tambahnya.

Silangan baru

Sejatinya perkawinan D. graveolens dan D. zibethinus tak hanya terjadi di alam. Greg sudah mencoba menggabungkan sifat kedua individu itu dengan menyilangkannya 22 tahun silam. Hasil silangan itu dapat dijumpai di Bogor di halaman belakang rumah Dr Ir L Agus Sukamto MSc - peneliti Herbarium, Bogor. Beruntung, awal Agustus lalu Trubus sempat mencicip buahnya. Buah berkulit kuning cerah, mirip D. graveolens. Warna daging buah sangat menarik, jingga cerah. Greg dan Agus menyebut hasil silangan itu sebagai tarian.

Nama tarian dipilih merujuk pada kedua induknya: tapon - sebutan D. graveolens di Kalimantan Tengah - dan durian. Tarian beraroma wangi lembut dan teksturnya pulen lantaran kadar air rendah. Meski tak semanis durian, tarian memiliki kadar gula lebih tinggi daripada D. graveolens. 'Kemungkinan sifat itu akan semakin baik pada F2 atau turunan ke-2,' kata Greg.

Munculnya durian-durian berwarna yang rasanya enak itu sejalan dengan program Direktorat Jenderal Hortikultura untuk mengembangkan durian multivarietas dari berbagai daerah. 'Durian merah itu termasuk salah satu unggulan daerah sehingga harus segera dilepas sebagai varietas dan dikembangkan,' kata Ir Nana Laksana Ranu MS, direktur Perbenihan dan Sarana Produksi Direktorat Jenderal Hortikultura.

Durian-durian unik itu pun disambut baik Lim Fie Min, pengelola Resto Duren Harum di Jakarta. 'Secara visual menarik, apalagi bila rasanya lezat. Pasar tentu mudah menerima,' ujar Lim. Selama ini durian berwarna tak masuk Jakarta karena pasokan terbatas. Lim pernah meminta pasokan ke pengepul di Kalimantan tapi ditolak karena populasi sedikit.

Menurut Lutfi durian merah itu dulunya menjadi buah persembahan Raja Kerajaan Bulungan. Belakangan D. zibethinus x D. graveolens itu selalu habis diborong warga Malaysia yang tinggal tak jauh dari perbatasan. 'Kita baru temukan karena akses jalan baru terbuka. Sebelumnya dipanen mania durian di negeri jiran,' kata Lutfi. (Nesia Artdiyasa)

Sumber : Trubus

Jumat, 17 Juli 2009

Melon Kotak Mekarsari



Sebuah terobosan baru diciptakan oleh Taman Wisata Mekarsari. Yakni menciptakan buah melon yang berbentuk kotak tanpa merubah rasa. Melon Kotak, begitu buah ini dinamakan olah penciptanya, tim Pemuliaan Taman Wisata Mekarsari yang dipimpin oleh Ir. AF. Margianasari.


Melon Kotak selintas jika dilihat menyerupai tiruan dari bahan lilin perupa, dengan bentuk kubus yang tak lazim seperti buah tropis yang sudah dikenal, tapi melihat daunnya yang hijau dan berbulu halus menandakan bahwa ini adalah buah sungguhan.

Sejak dipajang pada 26 Maret 2009, melon kotak produksi Mekarsari menjadi salah satu obyek wisata yang di favoritkan pengunjung. Banyak diantara pengunjung yang menyempatkan diri datang ke Mekarsari untuk melihat langsung dan mengabadikannya.

Melon Kotak ini sejatinya adalah Melon hybrid (Cucumis melo) dari jenis Lightgreen Mekarsari yang merupakan hasil persilangan dan pemuliaan oleh tim peneliti Mekarsari. Daging buahnya berwarna kuning oranye dengan aroma manis yang khas. Penampilan fisiknya berbentuk kubus dengan tinggi buahnyasaat ini kurang lebih 12 centimeter, lebar 9 centimeter dan panjang 10 sentimeter dan diperkirakan akan terus membesar mengikuti pertambahan usianya. Saat ini Melon Kotak telah berusia 65 hari dari usia panen sekitar 75 hingga 80 hari. Melon Kotak diperkirakan memiliki tingkat kemanisan mencapai 12,5° brix dan perkiraan berat 1.200 gram.

“ Di Mekarsari baru tersedia beberapa pohon, yang nantinya akan diperbanyak sampai dengan masa panen tiba. Tingkat kesulitan pembuatan buah ini sangat tinggi, dan sering mengalami kegagalan, dan baru berhasil sejak Desember 2008." kata Catherina Day Kepala Humas Mekarsari saat di hubungi Kabari.

Proses Pembuatan

Prinsip pembuatan Melon Kotak ini adalah membentuk buah Melon menggunakan cetakan berbentuk kotak dari bahan kaca atau plastik akrilik.

Pengerjaannya cukup sulit karena membutuhkan ketelitian serta perhatian tinggi agar berhasilan. Biasanya cetakan mulai dikenakan pada buah saat usia 40 – 45 hari. Dibandingkan melon biasa, biaya produksi Melon Kotak menjadi lebih mahal karena ada biaya tambahan untuk pembuatan kotak cetakan yang tidak jarang pecah akibat desakan dari pertumbuhan buah.

Selain itu diperlukan juga tenaga kerja khusus yang mengontrol bentuk serta resiko kegagalan panen buah.”Sebenarnya, ide seperti ini pernah dilakukan di Jepang dengan menggunakan buah semangka, namun bedanya adalah buah hasil rekayasa di Jepang rasanya tidak enak untuk dikonsumsi. Sedangkan Melon Kotak ini rasanya manis, harum dan enak dikonsumsi” Paparnya.

Tujuan diciptakannya Melon Kotak ini adalah sebagai variasi darimelon-melon yang sudah ada di Mekarsari maupun di pasaran. Karena bentuknya unik, diyakini Melon Kotak memiliki nilai lebih dibandingkan Melon berbentuk bulat dan tentunya dapat dijadikan buah tangan.

Rencananya, pihak Mekarsari akan menciptakan Melon dengan variasi bentuk yang lebih beragam lagi, tentunya dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi lagi.

Terlepas dari variasi bentuk, penciptaan ini tentunya menjadi terobosan baru dalam dunia pertanian di dunia, apalagi perubahan bentuk ini tidak merubah kualitas rasa.

Rencananya, Melon Kotak ini akan diproduksi dalam skala banyak pada bulan Juli 2009. Sampai saat ini pihak Taman Wisata Mekarsari belum menetapkan berapa harga jualnya. Yang jelas, Melon Kotak ini dapat dipesan minimal 3 bulan sebelumnya.

Sumber : Majalah Kabari

Bentuk Semangka Jepang


Siapa sih yang gak kenal buah semangka? Buat yang doyan banget sama semangka, jangan pernah mau untuk tinggal di jepang!! pasti sengsara banget deh rasanya Sumpah.. kita tahu, harga semangka disini untuk yang kualitasnya biasa saja mungkin bisa kita dapatkan berkisar 10-15ribu rupiah, di jepang malah dijual dengan harga sekitar 2000 yen atau sama dengan (Rp.160.000) per-buah, sementara untuk kualitas yang bagus harganya sekitar 4000 yen (Rp.320.000). selama ini dijepang masyarakat pertanian dan budidaya buah semangka sedang dalam proses perbaikan mutu buah yang lebih efisien. Berhubung rumah orang jepang itu mempunyai arsitektur kecil-kecil dan mempunyai banyak keterbatasan untuk perletakan barang terutama yang hidup di daerah pertanian, menurut mereka untuk menyimpan buah semangka yang mempunyai mutu bagus itu cukup merepotkan. Kenapa tidak, dengan bentuknya yang bulat dan besar, kadang-kadang malah jadi mantep alias makan tempat. Nah dengan alasan itulah para petani di jepang punya ide cemerlang untuk menciptakan semangka dengan bentuk yang lebih “simple” (bentuk kotak misalnya). Dengan diciptakannya semangka berbentuk kotak, otomatis untuk menyimpan semangka ini juga jauh lebih praktis! bisa di tumpuk-tumpuk, bisa di letak di sudut, di paket dalam kotak pengiriman, dan lain-lain.


Kita mungkin juga akan merasa senang melihat kreasi-kreasi bentuk buah yang aneh-aneh ini. Tapi mungkin cuma masih sebatas senang meliatnya saja, dikarenakan harganya bener-benar tidak masuk akal untuk konsumen indonesia. Coba bayangin aja, untuk 1 buah semangka kotak harganya 10.000 yen (Rp.800.000)! Alamak mahal sekalee. Dari kabar yang diperoleh di negara Jepang, semangka kotak ini biasanya dijadikan hadiah untuk orang-orang penting, atau sebagai hadiah dalam acara-acara formal aja.

Malahan dalam kurun waktu belakangan ini selain semangka kotak, muncul juga semangka-semangka berbentuk lain. Yang sudah pernah diperlihatkan diantaranya semangka segitiga, semangka bulat raksasa, semangka bentuk hati, dan yang bikin heran lagi, konon ada semangka bentuk muka orang! memang banyak cara untuk membuat bentuk semacam itu, mungkin bisa dimulai dari rekayasa pertanian.


Hingga sekarang ini harga-harga semangka terbaru ini juga lebih mahal daripada semangka kotak. kalo yang pernah dipublis di shibuya jepang mungkin harga semangka segitiga sekitar 30.000 yen (2,4 juta rupiah), tapi ternyata harganya cukup bervariasi tergantung besarannya juga. kalau sempat kita bisa bandingkan perbedaan harganya di pasar internet, semangka segitiga biasanya seharga sekitar 30.000-100.000 yen (100.000 yen = 8 juta rupiah). Menakjubkan bukan!.
Kalo maw cepet kaya.. dagang semangka ke Jepang aja yak? hehehe

Sumber : Botto Punya Cerita